SCTV News

Sabtu, 06 Juni 2009

Bukan Cerpen, Cuma Cerita 'sejarah' saja

Kutinggalkan kota kecil penuh kenangan berdebu manis bersama pacar. Tertatih langkah minibus menyusuri jalan berbatu, menggelincirkan anganku yang sudah sampai di halaman desaku.

Jam 11:30 check In, hasilnya 13:20 baru dapat giliran Take Off. Kutunggu waktu hampir sejam di kantin Bandara Simpang Tiga Pekanbaru. (Sekarang sudah ganti nama menjadi Bandara Sultan Syarif Qasim).
Aku nggak tahu kenapa jadi bandel untuk tinggalkan puasa. Bersama 'Body Guard' yang sering ngajak pulang saat diajak ngapel itulah aku menghabiskan waktu dengan semangkuk mie instant dan segelas kopi susu.

Jam 13:20, kutinggalkan Bumi bertuah Pekanbaru bersama sejuta kenangan bersama pacar (lah) dan semuanya.

Jam 15:45 Kuinjakkan kakiku di Bandara Soekarno Hatta.
Sambil menunggu transit. Kembali khayalku tak mampu untuk berlalu meninggalkan kenangan-kenangan manis bersamamu di kota kecil berdebu itu. Kucaba baca Riau Post, sebuah parcel dari pramugari Sempati Air. Tapi sungguh buntu isi anganku. Kulipat kembali Riau Post, kulangkahkan kakiku kesana kemari, untuk membuang rasa sebel, jenuh menunggu perjalanan selanjutnya menuju kota kelahiranku.

18:30 Silver Class Sempati Air yang kutumpangi Take-Off dari Bandara Soekarno-Hata menuju Kota Gudeg, Kota masa kecilku bersama Bokap, Nyokap & My Big Family.
Kucoba lagi melupakan sejenak anganku yang indah bersama pacar, kupejamkan mataku.

19:15 Kaget dan kuterbangun. Kuinjakkan kakiku di Bandara Adi Sucipto di Kota Pelajar, Kota kelahiranku.
Walau gerimis mengguyur landas pacu bandara, walau badanku basah tersiram airnya, kupaksakan juga melangkah dan mencari Taksi, 30KM perjalanan dari bandara aku kembali pulas di Jok depan taksi.

"Mas, mas sampun dugi meniko!"
Kuterperanjat dan mengucek mataku, benar rupanya memang sudah sampai. Segera keberlalu meninggalkan pak sopir itu menuju rumah ibu mertua saudaraku. Setelah berbasa-basi sekitar 10 menitan, segera kususuri gerimis di malam Takbiran itu menuju desa pinggir lautan dengan Astrea Prima pinjaman.

21:15 Kumatikan Astrea Prima pinjaman di depan rumah calon mertua pacarku itu. Kelihatan Si Embok lari tergopoh-gopoh menuju pintu pagar teras rumah. Sambil berteriak-teriak mencoba mengenali siapakah gerangan yang datang. Rasa kangen membuat anak dan emak berpelukan, pakai acara nangis-nangis seperti di sinetron itu lagi.

Ternyata di rumah masa kecilku itu sudah ramai sekali saudara yang pulang ingin berlebaran bersama Si Embok, mereka menyerbu menyalami 'artis' yang baru datang kemalaman itu.
Aduh mak, bahagianya waktu itu. Terasa lho sampai sekarang....

Ya acaranya dilanjutkan dengan ngobrol sana-sini sambil mengurai rindu bersama mereka tentunya, sampai larut malam bahkan.
Takbiran di Masjid-masjid membuat bangkitnya memoriku di masa-masa kanak-kanak di desa kecil itu.

09.02.1997
Pagi
Mandi, makan, dan ramai-ramai menuju Masjid untuk Sholat Idul Fitri.
Jumpa dengan warga desa, teman-teman lama, pacar lama, dan semuanya.

Acara berikutnya, long march keluarga menuju makam leluhur, untuk memanjatkan do'a. Dan agar kitapun jadi mengingat bahwa ada sebuah 'kehidupan' sesudah kematian.

Siang sampai sore, acaranya nggak ada yang lain. Jumpa 'fans' dan keluarganya sambil saling bermohon maaf.

10.02.1997
Acara Hari Rayaannya dialihkan dulu.
Kutelepon pacar yang sedang di Medan 'perjuangan' bersama keluarganya. Biasalah Pulang lebaran ke kampung masing-masing. Ternyata, do'i sedang jalan keluar beramai-ramai. Terus nggak bisa curhat deh. Terpaksa kutinggalkan Wartel yang masih sepi itu. Sepi bukan karena kepagian, tapi memang daerahnya yang sepi.

Akhirnya kembali aku pulang ke rumah Si Embok dengan Astrea Prima pinjaman itu dong. Dan tentunya dengan rasa di dada yang agak kecewa begitu, habis nggak berhasil ngobrol sih.

Malamnya, sebenarnya aku pengin sekali untuk mengulang tingkahku pagi tadi yang ke Wartel itu. Tapi karena ada keraguan di sudut mata, ya dikumpulin dulu aja deh bahannya.

11.02.1997
Kuajak Mas Ratno ke Malioboro. Rencananya sih mau shooping & refreshing (biar gaya dikit).
Saat menyusuri lapak pedagang kaki lima, mataku menangkap Telepon Kartu (Belum musim Hand Phone coy), tentu saja rinduku pada pacar semakin uring-uringan. Kudekati dia, kumainkan tuts-tutsnya, wow ternyata pada yang angkat itu telepon. Asyik lah ya. Biasa deh acaranya minta 'sangu' (istilah untuk kami berdua). Tapi sayang sekali, cuma dapat sebentar saja, kehabisan pulsatuh kartu teleponnya. Tapi nggak masalah, soalnya terobati juga rinduku yang rasanya sudah bergunung itu.

Kembali ke laptop....
Menyusuri Malioboro, dan hasilnya lumayan, dapat TV Mobile, Wayang Kulit, Pompa Air, dan macam-macam yang lain deh.
Jam makan siang tiba, saat Mas Ratno ngajak pulang.
Kembali memacu Astrea Prima bagai Racer andalanlah, 30 menit putus sampai rumah. Eh ada yang lupa, kembali ke Bendungan waktu itu. Ambil Cat, Pipa air, kran air. Memang mau ngapain? Biasalah pasang baru.
Acara dilanjutkan dengan nguras sumur......gile bener.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Widget

Nonton TV Sebentar